Minggu, 24 Februari 2013

Ask Yourself About Your Parent

Kali ini gue mau tanya dulu ke kalian deh. Jawab aja yang jujur ke diri sendiri. Pernah nggak sih elu pada marah atau bahkan benci sama orangtua lu?? Kalau kalian jawabnya tidak, berarti kalian sudah berhasil seenggaknya jadi anak yang berbakti ke orangtua lu sampe umur lu yang sekarang. Keep up the good attitude. Tapi kalau lu jawab pernah marah atau bahkan benci sama orangtua lu sendiri, tanya lagi deh sama diri lu sendiri apa masih mau benci, setelah lu baca postingan gue yang ini.

Dari gue kecil sampe masa-masa sekolah gue nggak pernah merasa dikecewain sama orangtua gue. Yah walaupun wajar kalau gue bilang pernah sebel dan kesel karena gue yakin ini sifatnya temporary alias ngikutin kemauan emosi doang. Nothing deep in it. Tapi untuk kata Benci, uh, It's a BIG NO. Gue nggak habis pikir  ada anak yang saking PeDe nya berani bilang ke muka umum, "Gue Benci Orangtua gue!!" mereka itu pada buta ye? emangnya mereka dari bayi dianggurin gitu aja terus tiba-tiba jadi gede kaya sekarang? Suka nggak peka emang anak zaman sekarang.

Intinya di postingan ini gue mau cerita tentang temen kecil gue, Adi. Gue sama Adi udah kenal dari balita kayaknya. Kita besar di kompleks perumahaan yang sama dan seinget gue dia adalah temen pertama yang bisa gue inget dalam hidup gue. Kita banyak ngabisin waktu buat main bareng. Satu moment yang gue inget banget sama Adi adalah, waktu itu gue dan dia masih duduk di TK, setiap pulang dari sekolah gue dan dia selalu main di bukit di belakang mesjid deket rumah gue. Pada saat itu, lagi booming banget sama kartun Ninja Hatori. Haha.. Gue selalu terharu banget kalau inget gimana kita berdua niruin gerakan ninja dan sok sok-an berantem ala ninja. Anyway, masa masa itu emang priceless banget dan dia emang salah satu temen TK yang paling gue inget. Oh iya, Adi ini punya warung milik ayah dan ibunya. Tipe warung kelontongan yang jual macem-macem kebutuhan rumah mulai dari lilin sampe batu baterai. Good times continues sampai satu saat, Ayahnya Adi meninggal dunia. Gue tau dari mamah. Saat itu gue nggak dateng ke rumah Adi. Gue lupa kenapa dan gue nggak tau saat itu Adi nangis atau enggak. Nggak lama setelah ayahnya Adi meninggal, Ibunya kemudian meninggal dunia juga. Gue lupa kalau nggak salah sekitar satu atau dua tahun. Pada saat ini juga gue nggak ngeliat Adi. Gue nggak dateng ke rumahnya, dan gue pengen tau dia nangis atau enggak. Setelah kedua orang tua Adi meninggal di umurnya yang masih belum masuk usia SD, Adi diurus oleh kakak kakaknya. FYI, Adi punya beberapa orang kakak yang sudah mahasiswa. At first, gue nggak ngerasa ada something's wrong with Adi. Gue masih ngerasa Adi adalah orang yang sama seperti Adi sebelum kedua orangtuanya meninggal dunia. Tapi dari yang gue denger-denger dari para ibu-ibu saat bertemu, mereka selalu bilang, "kasihan ya si Adi, bla.. Bla.." gue bingung? Karena anaknya main tiap hari sama gue nggak ada apa-apa kok.

Tapi ternyata emang ada yang berpengaruh. Pernah satu saat ketika Adi selesai main di rumah gue, dia pulang. Eh nggak lama kemudian, dia balik lagi tapi kali ini barengan kakaknya. Kakaknya nyuruh dia untuk minta maaf ke gue dan ngasiin satu genggam action figure kecil gue yang dia ambil ternyata. Jujur, saat itu gue nggak ada perasaan marah sedikit pun. Marah pun enggak. Padahal gue orangnya cukup pelit kalau masalah mainan. Disitu gue sadar emang ada something wrong with him. I think he's hurting inside.

Waktu terus berjalan, gue masih tumbuh bareng Adi. Kita setelah itu masuk SD yang sama dan masuk kelas yang sama. Di 6 tahun gue SD, gue lihat Adi baik-baik aja. Tapi ketika gue dan Adi harus masuk ke SMP berbeda, gue mulai denger berita-berita yang nggak baik tentang dia. Bukan nggak baik dalam hal apa ye guys, contohnya ada sering bolos sekolah. Gue nggak tau apa karena Adi nggak punya shoulder to cry on lagi atau apa. Yang pasti setelah masuk SMA, sikapnya makin nggak baik. Gue pernah liat telinga dia ditindik. Setiap gue pulang sekolah sore sekitar jam 4 atau jam 5 atau bahkan malem setelah maghrib, gue selalu liat dia nongkrong di depan rumahnya barengan temen temennya, sambil merokok! Gue sempet BeTe ngeliat temen-temennya sekarang yang kok kesannya malah menjerumuskan. Waktu itu gue Cuma bisa ngomong dalam hati bahwa gue sedih banget ngeliat dia jadi begitu sekarang. Bahkan dia pernah kabur ke salah satu kota, gue lupa, selama beberapa bulan dan itu bikin dia nggak naik kelas dan terpaksa harus menghabiskan masa SMA selama 4 tahun. The fact is, i was there but i can't do anything for him to make him better.

The point is, i wanna tell you the important (very important) role of parents. You see, growing up without real parent is almost impossible for some of us. Hampir susah untuk bikin satu karakter yang nggak impulsif, tenang, dan tau akan dirinya sendiri ketika nggak ada peran dari orangtua. Gue sendiri aja nggak bisa ngebayangin kalau nggak ada orangtua. It's like the worst nightmare. So guys think before you talk. Jangan sampe keluar kata-kata yang bisa bikin lu nyesel di kemudian hari. Nggak ada alasan untuk bisa benci sama orangtua lu sendiri dan nggak pernah ada seburuk apapun mereka (ya sebenernya ada sih beberapa hal, contohnya ayah yang memerkosa anaknya sendiri) karena in the end, we are here because they are there. Kita ada karena mereka ada. Love your parent guys! Mumpung masih di bulan Februari yang kata orang bulan kasih sayang. Send some love to them. Have a good day!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar