Selasa, 02 Mei 2017

Split.

2017 has been a rough ride so far. I started this year with a really hard beginning. Awal tahun 2017 boleh jadi permulaan tahun yang terberat di kehidupan gue. A lot of things happened. Banyak yang sudah terjadi dalam kurun waktu 4 bulan ini. I lost my mother (may she is rest in peace and heaven waiting for her), work pace at the office is kind of all over the place, and my relationship with someone close to me is hanging by a thread. Yet here I am, still standing. Broken but not lose. Crying but not by the weak of heart.

Brokenhearted. (image by Google)
Kali ini gue ingin ngomong soal perpisahan. Split. Banyak orang disekitar gue yang masih terlalu takut akan perpisahan. Padahal boleh jadi perpisahan adalah hal yang memang dibutuhkan. Wajib. Necessary. Banyak yang masih menganggap perpisahan adalah akhir dari segalanya. Seakan akan kata 'berpisah' berarti 'kiamat'. Walaupun memang sebagian dari perpisahan berarti tidak akan bertemu kembali, tetapi sebenarnya masih banyak hal yang bisa dilakukan setelah perpisahan. Karena menurut gue, perpisahan bukanlah memutus hubungan dari hal yang kita tinggalkan, melainkan tidak lebih dari mengubah bentuk hubungan antara kedua belah pihak. We will still interact or connect to that person/thing someway, somehow.

Pada bulan Januari 2017, my mother passed away at home. Gue kehilangan sosok satu-satunya ibu, sandaran hati, tempat keluh kesah paling mujarab, lawan ngomel, koki yang masakannya paling enak sedunia, yang pelukannya paling hangat, yang suaranya paling menenangkan, yang amarahnya paling menakutkan, yang senyumnya paling membahagiakan, yang keberadaannya menjadi arti keberadaan gue di dunia ini. I lost my sun. Sampai hari ini kehilangan beliau di hidup gue masih menyisakan ruang kosong yang tidak akan pernah terisi lagi oleh siapapun. Kehilangan mamah menjadi sesuatu yang sangat sulit bagi keluarga gue. Karena mamah adalah matahari kami. She is our sun and our lives revolves around her. Hidup kami berputar di sekelilingnya. Beliau adalah pusat dari hidup kami. Kehilangan mamah secara tiba-tiba benar-benar mengguncang gue personally. Gue sempat merasa lifeless. Kosong. Tanpa arah. Merasa keberadaan gue sudah tidak ada artinya lagi karena beliau sudah tidak ada. And I tell you, it is not easy at all.

Tidak mudah untuk menerima kematian seseorang yang penting di hidup lu. It is never easy. Salah satu bagian sulitnya adalah ketika gue harus tabah ketika yang gue inginkan adalah kecewa. Sulit ketika gue harus sabar ketika yang gue inginkan hanya menangis sekeras-kerasnya. Sulit ketika gue harus jadi seseorang yang kuat disaat gue butuh seseorang untuk bersandar. Sulit ketika gue harus sendiri ketika gue ingin bersama seseorang yang dekat.

Dari sini gue mulai tersadar, bahwa terlepas dari seberapa pun dekat dan sayangnya kita terhadap seseorang atau sesuatu, perpisahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. It is unavoidable. Eventually, we will part our ways. Through death or another. Gue sadar bahwa terlepas dari seberapa butuhnya diri gue atas dukungan orang lain, pada akhirnya gue harus melewati semuanya sendiri. I just realize that now. Sudah banyak orang-orang di sekitar gue yang pada akhirnya mengecewakan kepercayaan yang gue berikan kepada mereka. Walaupun sebenarnya mungkin lebih karena mereka sudah lelah mengikuti ekspektasi gue atas sebuah hubungan yang dibangun antara kami. Saat ini, gue sudah memutuskan untuk berhenti berharap kepada orang lain. Saatnya gue berjalan sendiri.

Another split moment in my life happened not long after mom passed away, sesuatu terjadi pada hubungan gue dengan seseorang yang paling dekat. Dia adalah orang yang paling dekat, yang mengerti gue, yang tahu apa yang gue pikirkan, yang mengerti diri gue. We went into some arguments fight. I got mad. We stop talking. Sampai pada saat gue menulis cerita ini, hati gue masih bergetar saat membayangkan seperti apa jadinya ketika kami sudah benar-benar menjadi orang asing bagi satu sama lain. Inside my heart, I knew that if I lose this relationship, I will never trust people again. I knew that i don't want to lose you.

Kadang ketika emosi menguasai, hal yang terkecil pun akan jadi masalah terbesar yang bisa fatal akibatnya. Sekarang bahkan gue tidak bisa menjustifikasi kemarahan gue kepada dia pada saat itu. Kemarahan yang gue rasakan ketika orang yang paling dekat tiba-tiba memulai hubungan baru dengan seseorang. Hubungan yang lebih dari apa yang gue dan dia punya selama ini. Kemarahan ketika kami nantinya hanya akan menjadi seseorang yang hanya mengenal nama dan tidak mengenal kehidupan satu sama lain lagi. Kemarahan ketika gue pada akhirnya hanya akan menjadi "flight attendant" bukan lagi "co-pilot" dalam pesawat yang kami rakit bersama. Kemarahan ketika teman terbaikmu mulai memiliki pasangan. Kemarahan ketika lu tahu waktu yang sebelumnya selalu kalian habiskan bersama akan hilang berganti dengan sebaris pesan singkat, "Maaf. Hari ini aku ada janji dengan si dia."

Mungkin seharusnya gue minta maaf karena sudah bersikap kekanak-kanakan. Namun, kemarahan yang gue rasakan semata-mata hanya karena gue percaya bahwa pilihan hati si teman ini tidak tepat dengan berbagai alasan yang terlalu panjang untuk dijelaskan. She don't deserve him neither does he. Gue marah karena sosok yang selama ini gue kagumi atas kemandiriannya, atas pikirannya yang lurus, atas tekadnya yang kuat atas sesuatu bisa berubah dalam hitungan hari hanya demi 'pilihan hati'. Sosok yang gue percayai bisa berjalan bersama gue untuk waktu yang sangat lama. Gue marah karena hanya demi hati, dia berubah menjadi sosok yang lembek, menyedihkan, yang berpikir tidak menggunakan akal. Gue marah karena dia sudah menghilangkan sosok yang selama ini gue pandang dari dirinya. Gue marah mengapa begitu sulit baginya untuk kembali menjadi dirinya yang dulu. Sosok yang kuat. Independen. Walaupun pada akhirnya, perasaan gue benar. They will never be together. He is broken after that. Sekarang dia jadi sosok yang tidak lagi gue kenal. But the most of all, I hate that I can't look him the same way. I hate that I can't see him as the same person I knew before. Oh I wish I could see him as nothing happened. Hal paling buruknya, gue tahu bahwa si 'pilihan hati' ini hanya melenggang kangkung tanpa sadar atau bahkan simpati kalau kelakuannya hampir menghancurkan hidup seseorang.

Gue tahu, ini bukan hak gue. Namun, ketika dua orang sudah sedekat ini, all I am trying to do is protect him from any harm possible. That is what brothers do. Ketika hidupnya sudah banyak berperan di hidup gue, keberadaannya menjadi penting di kehidupan gue. Harusnya dia bisa merasakan bagaimana sedihnya jika melihat saudaranya sedih namun tidak ada yang bisa dilakukan. Namun gue juga harusnya sadar, guru yang baik adalah guru yang memperbolehkan muridnya untuk melakukan kesalahan dan belajar darinya, bukan malah menghalanginya dari melakukan kesalahan. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Sedihnya, yang gue lakukan adalah sebaliknya. Gue terlalu fokus untuk menghindarkan dia dari kesedihan sampai gue lupa adalah tugasnya untuk mencoba. to feel. to experience. I should have said sorry.

Pada akhirnya, yang terjadi biarlah terjadi. Kalau pun dia sempat membaca tulisan ini, semoga dia tahu bahwa gue mengerti apa yang dia lakukan. Gue mengerti yang dia lakukan adalah hal yang harus dia lakukan untuk hidupnya. Itu adalah hidupnya, dan merupakan hak dia untuk jatuh cinta dengan orang yang salah, kemudian patah hati setelahnya. Gue hanyalah penonton yang bersorak di pinggir lapangan, berkomentar sesekali terhadap kejadian yang berlaku. Apapun yang telah terjadi, I should have said sorry. The least. Sekarang gue sudah siap apapun yang terjadi. Gue siap untuk kembali menjadi orang asing di kehidupannya. Gue siap jika dia berhenti menganggap gue sebagai teman terbaiknya. Gue sudah siap untuk kembali sendiri.

Begitulah hidup. It's a split every now and then. Jangan lupa bahwa hidup kita dimulai dari sebuah sel yang satu, kemudian memisah menjadi dua, memisah kembali menjadi empat, kemudian delapan, enam belas, dan seterusnya. Perpisahan tidak selamanya merusak hidup kita. Perpisahan tidak selamanya merugikan. Karena kita harus menyadari bahwa dengan perpisahan kita bisa menghargai arti pertemuan. Dengan perpisahan kita bisa mulai menghargai waktu dan kesempatan yang ada. Dengan perpisahan kita bisa menyadari bahwa tidak ada yang abadi. Sebagaimana inti sel kita yang terus memisahkan diri hingga akhirnya bisa membentuk sebuah organisme kompleks, harusnya sekarang kita bisa mengerti semakin banyak perpisahan yang kita alami dalam kehidupan kita, itu tidak akan merusak diri kita, malahan harusnya perpisahan itu bisa membawa hidup kita ke dalam tahap yang lebih kompleks lagi, lebih kuat, lebih hebat, lebih sempurna.

Have a good day everyone!

2 komentar:

  1. Udah lama sekali ga baca tulisan mu, Al. :)

    Tetap semangat, tetap menginspirasi ya.
    Have a good day..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haii Gadis!! Iya.. CaharCane mohon maaf ya sempet vakum lumayan lama, a lot happened. Tapi semoga mulai saat ini CaharCane bisa terus konsisten memberikan tulisan tulisan yang menarik!

      Terima kasih kak Gadis sudah terus membaca dan mendukung CaharCane sejak dulu :)) #hug

      Have a good day to you, Kak!

      Hapus